Vebma.com - Sekian lama kita berteman, bahkan mungkin lebih dari sekedar pertemanan. Namun mau dibilang sahabat sepertinya tidak cocok. Dibilang pacar aku pun masih bingung. Seperti tak ada jarak di antara kita, tetapi untuk status hubungan yang serius sepertinya memang bukan.
Entahlah, kadang aku tidak tahu harus bilang apa. Apakah kamu hanya menganggapku sahabat atau mungkin lebih dari sekedar sahabat. Belum ada sama sekali kata-kata yang jelas di telingaku hingga saat ini. Meski begitu, aku tetap senang setidaknya aku bisa selalu dekat denganmu.
Hingga akhirnya pelan-pelan aku mulai tersadar. Karena sepertinya ini bukan yang aku inginkan, melainkan sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti. Dan sedikit demi sedikit juga aku mencoba memahami. Namun semakin aku menyadarinya, ternyata ini memang bukanlah cinta.

Ya Tuhan.. aku terjebak dalam hubungan yang sebenarnya tidak aku inginkan. Seperti halnya laki-laki lain yang ingin memiliki hatimu. Aku pun juga demikian, ingin memiliki dan mencintaimu. Bukan hanya dekat terus tak jelas apa status hubungannya.
Ku pikir selama ini kamu mencintaiku seperti halnya aku mencintaimu. Namun ternyata aku salah besar. Tak pernah ada rasa cinta di hatimu kepadaku. Tapi mengapa kadang ku rasakan kamu juga mencintaiku? Apakah itu memang sengaja kamu lakukan demi membuat hatiku senang?
Andai aku bisa jujur kepadamu. Aku tidak pernah membutuhkan itu. Aku lebih butuh kejelasan daripada kepura-puraan darimu. Mungkin kamu tidak tega untuk mengatakannya, namun itu akan lebih baik daripada akhirnya harus seperti ini.

Kalau memang tidak ada sama sekali rasa cintamu kepadaku. Harusnya kamu katakan itu jauh-jauh hari sebelum aku berharap banyak kepadamu. Lebih baik pahit aku rasakan, jika itu memang sebuah kejujuran. Daripada bahagia aku rasakan, ternyata hanyalah sebuah kebohongan.
Baca juga: Merelakanmu Bahagia dengan Orang Lain. Adalah Cara Terakhirku Mencintaimu
Cukuplah, lebih baik aku mundur teratur dan mengatur langkah pelan-pelan untuk berada jauh darimu. Aku pun ingin hidup bahagia, bahagia yang sebenar-benarnya. Biar aku ikhlaskan dirimu bersama pilihanmu kelak. Mungkin yang akan memberikanmu kebahagiaan sejati.
Siapa aku kok berharap banyak kepadamu. Aku hanyalah teman, dan sampai kapanpun akan selalu begitu. Apakah ini salahku yang salah mengartikan maksudmu? Atau mungkin salahmu yang terlalu banyak memberikan harapan palsu kepadaku.

Sungguh malang nasibku ini, tak pernah merasakan manisnya cinta. Wanita yang sangat dekat denganku pun akhirnya hanya membuatku sakit hati. Apa mungkin karena aku terlalu baik? Sehingga menjadikanku jadi kurang menarik.
Aku baik karena memang itulah sifatku. Baikku bukan karena dibuat-buat atau pun sandiwara. Namun jika kamu lebih nyaman denganku sebagai sahabat, aku terima itu. Namun harusnya kamu katakan itu sejak jauh-jauh hari. Bukannya di saat aku mulai menata hatiku untuk hidup bersamamu.
Sebenarnya ada beberapa wanita yang harus aku lewatkan hanya karena aku memilih dekat denganmu. Jelas ceritanya mungkin akan jauh berbeda jika aku tidak melakukan itu. Tetapi, aku ikhlas dengan semua yang telah terjadi. Biarlah ini menjadi pelajaran berharga untuk kehidupanku kelak. Karena terlalu berharap, ternyata memang sangat menyakitkan.

Comments
Post a Comment